Skripsi Akuntansi

Analisis metode penilaian persediaan untuk mencapai laba yang optimal


SKRIPSI EKONOMI-AKUNTANSI (S1-AKUNTANSI)
Analisis metode penilaian persediaan untuk mencapai laba yang optimal pada produksi kasturit PT. Blambangan Foodpackers Indonesia.
www.tokomadura.co.id

(Untuk judul-judul skripsi lainnya : ekonomi akuntansi, keuangan, pemasaran dan sdm. Disini)

1.1Latar Belakang
Perusahaan merupakan suatu unit kegiatan tempat kerja sama faktor-faktor produksi (alam, tenaga kerja, modal dan keahlian pengusaha) yang menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat atau melayani kepentingan masyarakat, dengan tujuan memperoleh laba atau keuntungan. Penggolongan perusahaan dapat dibagi menjadi dua yaitu perusahaan menurut badan hukumnya dan perusahaan menurut operasinya. Perusahaan menurut badan hukumnya ada lima yaitu perusahaan perseorangan, firma, persekutuan komanditer, perseroan terbatas dan koperasi. Sedangkan perusahaan menurut operasinya ada tiga yaitu perusahaan jasa, perusahaan dagang dan perusahaan industri (manufaktur).
Semua perusahaan mempunyai persediaan yang merupakan investasi terbesar dalam aktiva lancar, baik pada perusahaan jasa, dagang maupun manufaktur. Pada perusahaan jasa tidak semuanya mempunyai prsediaan, hanya sebagian perusahaan jasa saja yang mempunyai persediaan seperti perusahaan jasa transportasi. Pada perusahaan dagang, persediaan yang terdiri dari dari berbagai macam dan jenis dan hanya dikenal satu klasifikasi persediaan yang disebut dengan persediaan barang dagangan, dimana persediaan tersebut adalah milik perusahaan dan siap untuk dijual kepada konsumen. Sedangkan pada perusahaan manufaktur, tidak semua persediaan siap untuk dijual. Berbeda halnya dengan persediaan barang dagangan, persediaan pada perusahaan manufaktur diklasifikasikan menjadi tiga kategori yaitu persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses dan persediaan barag jadi (Jusup, 2003;100).
Persediaan dalam pengertian akuntansi menunjukkan nilai suatu barang yang diproduksi untuk dijual atau dikonsumsi. Rekening persediaan juga menunjukkan nilai total kekayaan dalam bentuk persediaan dalam proses. Pada umumnya persediaan dinilai berdasarkan biaya (Yamit, 1999;199). Besarnya biaya atau ongkos persediaan tergantung pada prosedur akuntansi yang ditetapkan oleh perusahaan dalam menilai persediaan. Metode akuntansi yang digunakan untuk menilai persediaan sangat penting, karena akan mempengaruhi terhadap nilai rupiah persediaan dan biaya barang yang dijual.
Tujuan utama perusahaan adalah untuk mendapatkan keuntungan atau laba. Tujuan pokok akuntansi persediaan adalah untuk menentukan laba rugi periodik yaitu melalui proses mempertemukan antara harga pokok barang dijual dengan hasil penjualan dalam satu periode akuntansi dan menentukan jumlah persediaan yang akan disajikan dalam neraca (Harnanto, 2002;223). Dalam hal ini disamping adanya penggolongan persediaan sesuai dengan jenisnya, juga sangat penting artinya penilaian terhadap persediaan itu sendiri.
Penilaian persediaan dianggap penting, karena secara tidak langsung akibat penilaian persediaan akan mempengaruhi kedua laporan keuangan pokok, yaitu laporan perhitungan laba rugi dan neraca, sedangkan semua perusahaan menginginkan laba yang optimal. Berdasarkan uraian tersebut, maka judul dari penelitian ini adalah Analisis metode penilaian persediaan untuk mencapai laba yang optimal pada produksi kasturit PT. Blambangan Foodpackers Indonesia.

(jika anda ingin memilikicontoh skripsinya lengkap dlm format(M.word)Silahkanhub.08563056386(pak eko)(SMS aja)
anda hanya mengganti ongkos pengetikan MURAH(100rb/judul)
pembayaran melalui transfer antar BANK, pengriman via email.
Caranya berkas akan kirim duluan via email anda tetapi berpassword, setelah anda melakukan pembanyaran, maka password akan dikirim via sms ke no.hp anda.


1.2Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, penggunaan metode penilaian persediaan yang tepat akan menentukan besarnya laba yang akan diperoleh perusahaan. Perusahaan mengharapkan laba yang akan diperoleh merupakan laba yang optimal, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah metode penilaian persediaan apakah agar mencapai laba yang optimal pada produksi kasturit PT. Blambangan Foodpackers Indonesia.

1.3Pembatasan Masalah
Penulis memberikan batasan masalah terhadap permasalahan pada penelitian ini. Hal tersebut dilakukan agar pokok permasalahan yang diteliti tidak terlalu melebar dari yang sudah ditemukan. Batasan masalah dalam penelitian ini yaitu pada penggunaan metode penilaian persediaan, dimana metode penilaian persediaan yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada Pernyataan Standart Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 14 dan sistem pencatatan persediaannya menggunakan sistem perpetual dengan menggunakan kartu persediaan sehingga metode rata-ratanya menggunakan metode rata-rata bergerak.
1.4Tujuan Penelitian
Dilakukannya suatu penelitian tidak terlepas dari tujuan penelitian itu sendiri. Tujuan merupakan suatu target yang akan dicapai dari setiap kegiatan. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk memperoleh metode penilaian persediaan yang tepat agar mencapai laba yang optimal pada produksi kasturit PT. Blambangan Foodpackers Indonesia.

1.5Manfaat Penelitian
Suatu penelitian akan bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Adapun manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah:
a.Bagi Perusahaan
Memberikan gambaran mengenai metode penilaian persediaan dalam mencapai laba yang optimal pada produksi kasturit PT. Blambangan Foodpackers Indonesia.
b.Bagi Peneliti
Dapat membuktikan metode penilaian persediaan yang tepat dalam mencapai laba yang optimal pada produksi kasturit PT. Blambangan Foodpackers Indonesia.
c.Bagi Fakultas Ekonomi Universitas Madura
Dapat memberikan kontribusi dan dapat dijadikan sebagai referensi bagi peneliti berikutnya.
1.Kerangka Pemikiran

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Persediaan
Menurut Baridwan (1982;123) persediaan digunakan untuk menunjukkan barang-barang yang dimiliki untuk dijual kembali atau digunakan untuk memproduksi barang-barang yang dijual. Persediaan menurut Harnanto (2002;222) adalah meliputi semua barang yang dimiliki dengan tujuan untuk dijual kembali dan atau dikonsumsi dalam operasi normal perusahaan. Menurut Kieso, dkk (2001;444) persediaan adalah pos-pos aktiva yang dimiliki untuk dijual dalam operasi bisnis normal atau barang yang akan digunakan atau dikonsumsi dalam memproduksi barang yang akan dijual.
Persediaan adalah sebagai suatu aktiva yang meliputi barang-barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode usaha yang normal atau persediaan barang-barang yang masih dalam proses produksi. (Jusup, 2003;99). Persediaan barang dagangan menurut Assauri (1999;169) adalah elemen yang sangat menentukan dalam penentuan harga pokok penjualan pada perusahaan dagang, eceran, maupun perusahaan partai besar.
Dari beberapa pengertian mengenai persediaan, dapat disimpulkan bahwa persediaan merupakan salah satu unsur yang paling efektif dalam kegiatan perusahaan dagang maupun manufaktur karena hampir seluruh pendapatannya diperoleh dari penjualan barang sebagai persediaan yang secara terus menerus diperoleh, diubah dan kemudian dijual kembali. Persediaan adalah meliputi semua barang yang dimiliki dengan tujuan untuk dijual kembali. Tanpa adanya persediaan pada suatu waktu tertentu perusahaan tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang memerlukannya.

2.2 Klasifikasi Persediaan
Di dalam akuntansi penggolongan persediaan sangat dipengaruhi oleh sifat dan jenis usaha perusahaan yang bersangkutan. Dalam sebuah perusahaan dagang, persediaan terdiri dari berbagai macam dan jenis, dimana barang-barang yang dibeli dengan tujuan akan dijual kembali. Oleh karena itu, dalam perusahaan dagang hanya dikenal satu klasifikasi persediaan yang disebut dengan persediaan barang dagangan. Perusahaan manufaktur juga memiliki persedian, akan tetapi berbeda halnya dengan persediaan pada perusahaan dagang, pada perusahaan manufaktur tidak semua persediaan siap untuk dijual. Oleh karena itu persediaan pada perusahaan manufaktur diklasifikasikan menjadi tiga kategori yaitu (Stice, dkk. 2004;654):
a.Persediaan bahan baku adalah barang-barang yang dibeli untuk digunakan dalam proses produksi.
b.Persedian barang dalam proses adalah barang yang terdiri dari bahan-bahan yang telah diproses namun masih membutuhkan pengerjaan lebih lanjut sebelum dijual. Persediaan ini terdiri dari tiga komponen biaya:
1) Bahan baku langsung, yaitu bahan baku yang secara langsung dapat diidentifikasi dalam barang yang diproduksi.
2) Tenaga kerja langsung, yaitu biaya tenaga kerja yang secara langsung dapat diidentifikasi dengan barang yang diproduksi.
3) Overhead pabrik, yaitu bagian dari overhead pabrik yang dibebankan atas barang yang diproduksi.
c.Persediaan barang jadi adalah barang yang sudah selesai diproduksi selain bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung.
Menurut Harnanto (2002;222) penggolongan persediaan sangat dipengaruhi oleh sifat dan jenis uasaha perusahaan yang bersangkutan. Bagi perusahaan dagang yang didalam usahanya adalah membeli dan menjual kembali barang dagangan, pada umumnya persediaan yang dimiliki diklasifikasikan sebagai berikut:
a.Persediaan barang dagangan, barang-barang yang dimiliki dengan tujuan akan dijual kembali di masa yang akan datang. Barang-barang ini tidak akan berubah sampai dengan barang dagang tersebut dijual kembali.
b.Lain-lain persediaan, seperti supplies kantor (toko), dan alat-alat pembungkus
dan lain sebagainya. Barang-barang ini biasanya dipakai (dikonsumsi) dalam jangka waktu relatif pendek dan akan dibebankan sebagai beban administrasi dan umum atau beban pemasaran. Oleh karena itu biasanya terhadap jenis persediaan ini diperlakukan sebagai biaya yang dibayar dimuka atau persediaan suplies.
Sementara itu untuk perusahaan manufaktur yang didalam usahanya adalah mengubah bentuk bahan baku menjadi produk jadi. Pada umumnya persediaan pada perusahaan manufaktur diklasifikasikan ke dalam berbagai kelompok sebagai berikut:
a.Persediaan bahan baku, untuk menyatakan barang-barang yang dibeli atau diperoleh dari sumber-sumber alam yang dimiliki dengan tujuan untuk diolah menjadi produk jadi. Dalam hal bahan baku yang digunakan di dalam proses produksi berupa suku cadang dan harus dibeli dari pihak lain, maka barang-barang demikian sering disebut sebagai persediaan suku cadang.
b.Persediaan produk dalam proses, meliputi barang-barang yang masih dalam pengerjaan dan memerlukan pengerjaan lebih lanjut sebelum barang itu dijual. Produk dalam proses, pada umumnya dinilai jumlah harga pokok bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik (biaya produksi tidak langsung lainnya) yang telah dikeluarkan/ terjadi sampai dengan tanggal tertentu.
c.Persediaan produk jadi, meliputi semua barang yang telah diselesaikan dari proses produksi dan siap untuk dijual. Produk jadi pada umumnya dinilai sebesar jumlah harga pokok bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik yang diperlukan untuk menghasilkan produk tersebut.
d.Persediaan bahan penolong, meliputi semua barang yang dimiliki untuk keperluan produksi, akan tetapi tidak merupakan bahan baku yang membentuk produk jadi.
e.Lain-lain persediaan, misalnya suku cadang, suplies kantor, alat-alat pembungkus seperti halnya perusahaan dagang.
2.3 Arti Penting Persediaan
Menurut Jusup (2003;99) baik dalam perusahaan dagang maupun perusahaan manufaktur persediaan berpengaruh terhadap neraca maupun laporan laba rugi. Dalam neraca, persediaan merupakan bagian yang sangat besar dari seluruh jumlah aktiva lancar yang dimiliki perusahaan. Bagi sebagian perusahaan, persediaan merupakan bagian yang paling aktif dalam operasi perusahaaan, yang secara terus-menerus dibeli atau diproduksi. Sebagian besar dari sumber daya perusahaan dapat diinvestasikan dalam barang yang dibeli atau diproduksi. Hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya kegiatan pembelian dan penjualan persediaan dalam operasi perusahaan. Dalam laporan laba rugi, persedian memegang peranan yang sangat vital dalam penentuan hasil operasi perusahaan untuk suatu periode. Manajemen harus berusaha untuk menjaag keseimbangan persediaan agar tidak terlalu tinggi dan juga tidak tertlalu rendah. Persediaan yang terlalu kecil akan menimbulkan kekecewaan konsumen, sebaliknya persedian yang terlalu tinggi akan menyebabkan biaya penyimpanan dan pemeliharan persediaan akan melambung.

2.4 Metode Penilaian Persediaan
Metode akuntansi yang digunakan untuk menilai persediaan sangat penting, karena akan berpengaruh terhadap nilai rupiah persediaan dan biaya barang yang dijual. Pemilihan metode akuntansi persediaan di Indonesia mengacu pada Pernyataan Standart akuntansi Keuangan (PSAK) No. 14 (IAI,2002) yang menyatakan bahwa diberlakukannya tiga metode akuntansi persediaan yaitu First In First Out (FIFO), rata-rata tertimbang (weighted average), dan Last In First Out (LIFO). Namun menurut UU Perpajakan Indonesia No. 7 tahun 1983 Jo UU No. 10 tahun 1994 tentang pajak penghasilan hanya mengakui metode FIFO dan rata-rata tertimbang (weighted average).
a.FIFO (First In First Out)
Metode FIFO atau masuk pertama keluar pertama menganggap bahwa barang yang terlebih dahulu dibeli akan dijual terlebih dahulu, dengan demikian harga perolehan barang yang lebih dahulu dibeli dianggap akan menjadi harga pokok penjualan lebih dahulu juga.
b.LIFO (Last In First Out)
Metode LIFO atau masuk terakhir keluar pertama menganggap bahwa barang yang dibeli lebih akhir akan dijual terlebih dahulu, dengan demikian harga perolehan barang yang dibeli paling akhir akan dialokasikan terlebih dahulu sebagai harga pokok pendahuluan.
c.Metode rata-rata
Metode rata-rata didasarkan pada anggapan bahwa barang tersedia untuk dijual adalah homogen. Metode ini tidak mudah untuk menentukan berapa unit yang harus keluar terakhir, dengan demikian pengalokasian harga perolehan barang yang tersedia untuk dijual dilakukan atas adasar harga perolehan rata-rata. Ada tiga tipe rata-rata yang dapat digunakan:
1)Rata-rata sederhana (simple average) memisahkan jumlah produksi atau biaya pembelian dengan jumlah produksi sedang berjalan atau sedang disimpan.
2)Rata-rata tertimbang (weighted average) memisahkan harga pokok yang akan dijual dengan jumlah unit yang tersedia selama periode tertentu.
3)Rata-rata bergerak (moving average) memperhitungkan rata-rata biaya per unit setelah pembelian atau penambahan persediaan.
Pada akhir periode akuntansi, total biaya persediaan harus dialokasikan ke persediaan yang masih ada untuk dilaporkan di neraca sebagai aktiva dan ke persediaan yang terjual selama periode tersebut untuk dilaporkan di laporan laba rugi sebagai beban harga pokok penjualan. Bermacam-macam metode telah berkembang guna membuat alokasi antara harga pokok penjualan dan persediaaan. Metode-metode yang paling umum adalah identifikasi khusus, biaya rata-rata, masuk pertama keluar pertama, dan masuk terakhir keluar pertama (Stice, dkk. 2004;667).
a.Metode identifikasi khusus
Metode identifikasi khusus memerlukan suatu cara untuk mengidentifikasi biaya histories dari unit persediaan. Dengan identifikasi khusus, arus biaya yang dicatat disesuaikan dengan arus fisik barang.
b.Metode biaya rata-rata
Metode biaya rata-rata membebankan biaya rata-rata yang sama ke setiap unit. Metode ini didasarkan pada asumsi bahwa barang yang terjual seharusnya dibebankan dengan biaya rata-rata, yaitu rata-rata tertimbang dari jumlah unit yang dibeli pada tiap harga.
c.Metode masuk-pertama, keluar-pertama (MPKP)
Metode kos masuk-pertama keluar-pertama yang disebut dengan metode FIFO didasarkan pada suatu asumsi bahwa unit yang terjual adalah unit yang terlebih dahulu masuk. FIFO memberikan kesempatan kecil untuk memanipulasi keuntungan karena pembebanan biaya ditentukan oleh urutan terjadinya biaya. Selain itu, dalam FIFO unit yang tersisa pada persediaan akhir adalah unit yang paling akhir dibeli, sehingga biaya yang dilaporkan akan mendekati atau sama dengan biaya pengganti di akhir periode.
d.Metode kos masuk-terakhir keluar-pertama (MTKP)
Metode kos masuk-terakhir keluar-pertama yang disebut dengan metode LIFO didasarkan pada suatu asumsi bahwa barang yang paling barulah yang terjual. Metode ini adalah metode yang paling baik dalam pengaitan biaya persediaan saat ini dengan pendapatan saat ini.

2.5 Perolehan Persediaan
Perusahaan dagang mendapatkan persediaan dengan cara membeli barang-barang jadi yang siap untuk dijual kembali secara langsung. Pada perusahaan manufaktur persediaan diperoleh dengan cara memproduksi sendiri. Menurut Harnanto (2002;222) untuk mendapatkan persediaan, perusahaan menufaktur harus mengeluarkan biaya-biaya produksi yang meliputi:
a. Biaya bahan baku, yaitu harga pokok bahan baku yang secara langsung dapat diamati pada setiap unit produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Pada perusahaan percetakan misalnya, harga pokok kertas merupakan salah satu komponen biaya bahan bakunya.
b. Biaya tenaga kerja langsung, yaitu gaji, upah, dan biaya kesejahteraan karyawan yang secara langsung dapat diamati pada setiap unit produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Untuk perusahaan percetakan, yang termasuk dalam kategori biaya tenaga kerja langsung tersebut antara lain adalah gaji, upah, dan biaya kesejahteraan karyawan bagian master, setting, dan finishing.
c. Biaya produksi tidak langsung atau biaya overhead pabrik, yaitu semua biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Untuk perusahaan percetakan, yang termasuk dalam kategori biaya overhead pabrik antara lain adalah biaya asuransi, depresiasi dan pemeliharaan mesin.

2.6 Metode Pencatatan Persediaan
Ada dua metode yang dapat digunakan dalam hubungannya dengan pencatatan persediaan:
a.Metode fisik
Penggunaan metode fisik mengharuskan adanya perhitungan barang yang masih ada pada tanggal penyusunan laporan keuangan. Perhitungan persediaan ini diperlukan untuk mengetahui berapa jumlah barang yang msih ada dan kemudian diperhitungkan harga pokoknya. Dalam metode ini mutasi persediaan barang tidak diikuti dalam buku-buku, setiap pembelian barang dicatat dalam rekening pembelian. Karena tidak ada catatan mutasi persediaan barang, maka harga pokok penjualan juga tidak dapat diketahui sewaktu-waktu. Harga pokok penjualan baru dapat dihitung apabila persediaan akhir sudah dihitung.
Kelemahan dari metode ini adalah bila barang yang dimiliki jenisnya dan jumlahnya banyak, maka perhitungan fisik akan memakan waktu yang cukup lama dan akibatnya laporan keuangan juga akan terlambat. Tidak diikutinya mutasi persediaan dalam buku menjadikan metode ini sangat sederhana baik pada saat pencatatan pembelian maupun pada waktu melakukan pencatatan penjualan.
b.Metode Perpetual
Dalam metode perpetual setiap jenis persediaan dibuat rekening sendiri-sendiri yang merupakan buku pembantu persediaan. Rekening yang digunakan untuk mencatat persediaan ini terdiri dari beberapa kolom yang dapat dipakai untuk mencatat pembelian, penjualan, dan saldo persediaan. Setiap perubahan dalam persediaan diikuti dengan pencatatan dalam rekening persediaan sehingga jumlah persediaan sewaktu-waktu dapat diketahui dengan melihat kolom saldo dalam rekening persediaan. Masing-masing kolom dirinci lagi untuk kuantitas dan harga perolehannya. Dibandingkan dengan metode pencatatan fisik, metode ini merupakan cara yang lebih baik untuk mencatat persediaan yaitu dapat membantu memudahkan penyusunan neraca dan laporan laba rugi, juga dapat digunakan untuk mengawasi barang-barang dalam gudang.
Ada dua sistem pencatatan persediaan menurut Kieso, dkk (2001;446) yaitu sistem perpetual dan sistem periodik:
a.Sistem perpetual
Menurut sistem persediaan perpetual, catatan yang berkelanjutan menyangkut perubahan persediaan dicerminkan dalam akun persediaan. Yaitu, semua pembelian dan penjualan (pengeluaran) barang dicatat secara langsung ke akun persediaan pada saat terjadi. Karakteristik akuntansi dari sistem perpetual adalah:
1)Pembelian barang dagang untuk dijual atau pembelian bahan baku untuk diproduksi didebet ke persediaan dan bukan ke pembelian.
2)Biaya transportasi masuk, retur pembelian dan pengurangan harga, serta diskon pembelian dicatat dalam persediaan bukan akun terpisah.
3)Harga pokok penjualan diakui untuk setiap penjualan dengan mendebet akun harga pokok penjualan dan mengkredit persediaan.
4)Persediaan merupakan akun pengendali yang didukung oleh buku besar pembantu yang berisi catatan persediaan individual. Buku besar pembantu memperlihatkan kuantitas dan biaya dari setiap jenis persediaan yang ada di tangan.
b.Sistem periodik
Menurut sistem persediaan periodik, kuantitas persediaan di tangan ditentukan. Semua pembelian persediaan selama periode akuntansi dicatat dengan mendebet akun pembelian. Total akun pembelian pada akhir periode akuntansi ditambahkan ke biaya persediaan di tangan pada awal periode untuk menentukan total biaya barang yang tersedia untuk dijual selama periode berjalan. Kemudian total biaya barang yang tersedia untuk dijual dikurangai dengan persediaan akhir untuk menentukan harga pokok penjualan.
2.7 Pengaruh Metode Penilaian Persediaan
Semua metode penilai persediaan didasarkan atas harga perolehan. Setiap perusahaan bebas untuk memilih salah satu metode penilaian persediaan yang dianggap cocok dan perlu diketahui juga pengaruh dari masing-masing metode yang digunakan.
a.Pengaruh terhadap neraca
Pada metode FIFO harga perolehan persediaan yang ditetapkan pada tanggal neraca akan mendekati saat itu. Berbeda halnya dengan metode LIFO, harga perolehan persediaan pada tanggal neraca didasarkan pada harga perolehan barang yang dibeli lebih awal. Akibatnya, harga perolehan persediaan tidak mencerminkan keadaan pada tanggal neraca dan aktiva lancar sehingga total aktiva akan dilaporkan lebih rendah dari harga yang berlaku pada tanggal neraca.
b.Pengaruh terhadap laba rugi
Penggunaan metode FIFO pada masa inflasi akan menghasilkan laba bersih yang tinggi. Namun ada yang berpendapat bahwa pemakaian metode FIFO di masa inflasi akan menghasilakan laba semu. Oleh karena itu, penggunaan metode LIFO lebih dianjurkan.
c.Pengaruh terhadap pajak
Perhitungan laba bersih dengan metode LIFO akan menghasilkan pajak penghasilan yang lebih rendah bila dibandingkan dengan metode FIFO maupun metode rata-rata. Hal tersebut disebabkan karena pada penggunaan metode LIFO laba yang dihasilkan lebih kecil dibandingkan metode FIFO
Tujuan pokok akuntansi persediaan adalah untuk menentukan laba rugi periodik yaitu melalui proses mempertemukan antara harga pokok barang dijual dengan hasil penjualan dalam suatu periode akuntansi dan menentukan jumlah persediaan yang akan disajikan di dalam neraca. Gambar aliran harga pokok persediaan pada perusahaan dagang berikut ini sedikit banyak menjelaskan alasan mengapa penilaian persediaan secara langsung mempunyai akibat pada kedua laporan keuangan pokok (Harnanto,2002; 223)

2.8 Biaya – Biaya Yang Harus Dimasukkan Dalam Persediaan
Salah satu masalah paling penting dalam menangani persediaan berhubungan dengan berapa jumlah persediaan yang harus dicatat dalam akun. Pembelian persediaan, seperti aktiva lain, umumnya diperhitungkan atas biaya. Berikut biaya-biaya yang harus dimasukkan dalam persediaan.
a.Biaya produk, adalah biaya yang melekat pada persediaan dan dicatat dalam akun persediaan.
b.Biaya periode, seperti beban penjualan dan beban umum serta adminstrasi yang dianggap tidak berhubungan langsung dengan produksi barang.
c.Biaya manufaktur, barang dalam proses dan barang jadi meliputi bahan, tenaga kerja langsung, dan biaya overhead manufaktur. Biaya overhead manufaktur meliputi bahan tidak langsung, tenaga kerja tidak langsung, dll.
2.9 Kepemilikan Persediaan
Barang-barang yang seharusnya dimasukkan dalam persediaan dari suatu usaha memegang kepemilikan hukum. Pengalihan hak adalah istilah hukum yang ditujukan pada titik dimana kepemilikan berubah.
a.Barang Dalam Perjalanan
Kepemilikan barang dalam perjalan tergantung dari persyaratan penjualan. Ketika persyaratannya adalah FOB (free on board) shipping point, barang sudah menjadi milik pembeli ketika barang masih dalam perjalanan dimasukkan dalam persediaan pembeli. Ketika barang dikirim dengan persyaratan penjualan FOB (free on board) destination, barang-barang tersebut masih menjadi milik penjual selama barang masih dalam perjalanan dan dimasukkan dalam persediaan penjual.
b.Barang Konsinyasi
Dalam kepemilikan barang konsinyasi, pengirim tetap memegang hak kepemilikan dan tetap memasukkan barang tersebut kedalam persediaan sampai barang tersebut berhasil dijual atau digunakan oleh penyalur dan pelanggan. Barang lain yang dimiliki perusahaan tetapi barada dalam pengawasan pihak lain untuk menyimpan, pemrosesan atau pengiriman juga harus ditunjukkan sebagai bagian dari persediaan akhir dari perusahaan yang memiliki barang tersebut.
Dalam menghitung jumlah persediaan sering terdapat barang yang masih dalam perjalanan dan yang berada di tempat pihak lain (konsinyasi). Untuk tujuan perpajakan barang itu dapat dianggap berada di tangan wajib pajak (termasuk persediaan). Untuk tujuan PPN (Pajak Pertambahan Nilai), Pasal 1 bagian (c) UU PPN 1984 menyatakan penyerahan barang (kena pajak) kepada pedagang perantara dianggap merupakan transaksi penyerahan (penjualan). Oleh karena itu, menyimpang dari praktek akuntansi (yang diikuti PPh/ Pajak Penghasilan), umtuk tujuan pelaporan dan penghitungan PPN barang konsinyasi tidak termasuk persediaan penitip (consignor) walaupun barangnya secara nyata belum terjual.
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi Penelitian
PT. Blambangan Foodpackers Indonesia terletak di jalan Pelabuhan No.1 PO. BOX 1 Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi. Lokasi perusahaan tersebut terdiri dari lokasi pabrik, tempat produksi dan sekaligus kantor untuk mengurus segala administrasinya. Pemilihan lokasi perusahaan di daeran Muncar sangat strategis karena ditinjau dari segi usaha cukup menguntungkan, hal ini didasarkan atas pertimbangan tertentu, yaitu:
a.Bahan baku ikan yang dibutuhkan dapat dengan mudah diperoleh dan harganya relatif murah karena dekat dengan sumber bahan baku. Selain di Muncar, bahan baku juga diperoleh dari perairan Bali yang meliputi daerah Pangembangan dan Jimbaran, serta Probolinggo, Bugger dan Madura
b.Tenaga kerja yang tersedia di Muncar cukup banyak, sehingga dapat dijadikan sumber tenaga kerja. Penarikan tenaga kerja di daerah ini berarti telah membantu program pemerintah dalam hal penyediaan lapangan pekerjaan dan mengurangi terjadinya urbanisasi.
c.Transportasi tidak mengalami kesulitan, karena sarana transportasi di daerah Muncar ini sangat baik sehingga sesuatu yang berhubungan dengan pengangkutan tidak mengalami kesulitan.
d.Areal tanah disekitar perusahaan cukup luas sehingga apabila ingin mengadakan perluasan pabrik tidak mengalami kesulitan.
Alasan pemilihan perusahaan atau lokasi penelitian ini dikarenakan lokasi penelitian berada di daerah paling timur pulau Jawa, yaitu tepatnya di daerah Muncar Banyuwangi. Sebagian besar masyarakat Muncar adalah masyarakat Madura sehingga dalam beradaptasi dengan masyarakat sekitar pada saat melakukan penelitian dapat dilakukan dengan mudah. Selain itu PT. Blambangan Foodpackers Indonesia merupakan perusahaan terbesar di daerah Muncar dan hal utama yang membuat penulis memilih perusahaan ini adalah perusahaan ini sangat cocok atau tepat dengan judul penelitian penulis khususnya untuk produksi kasturit pada perusahaan ini.
3.2 Jenis Penelitian
Jenis penelitian pada penelitian ini adalah studi kasus. Pada penelitian ini penulis menemukan suatu permasalahan atas penilaian persediaan pada produksi kasturit PT. Blambangan Foodpackers Indonesia yaitu menggunakan biaya asli dalam menilai persediaannya, hal tersebut sulit dilakukan pada produksi kasturit karena barang yang dibeli memiliki perbedaan biaya, sehingga perlu menggunakan metode penilaian persediaan yang tepat.

3.3 Jenis dan Sumber Data
Dalam penelitian ini jenis data yang penulis gunakan adalah data kuantitatif. Sumber data yang penulis gunakan adalah data sekunder, yaitu data-data yang berupa data pembelian dan penjualan produksi kasturi PT. Blambangan Foodpackers Indonesia.


3.4 Definisi Operasional
Definisi operasional menunjukan indikator dari variabel dan bagaimana cara mengukur variabel tersebut. Dalam penelitian ini menggunakan satu variabel, yaitu metode penilaian persediaan. Metode penilaian persediaan adalah prosedur akuntansi yang menentukan kapan dan berapa perubahan kekayaan serta berapa nilai kekayaan yang ditransformasikan ke dalam biaya. Ada tiga indikator dari variabel tersebut, yaitu:
a.Metode FIFO
b.Metode LIFO
c.Metode Rata-rata bergerak
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Dalam memperoleh data yang lengkap dan akurat dibutuhkan beberapa cara atau teknik dalam pengumpulan datanya. Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang penulis gunakan adalah dokumentasi, yaitu dengan melihat data-data yang berupa data pembelian dan penjualan pada produksi kasturit PT. Blambangan Foodpackers Indonesia.
Untuk memperoleh data, penulis terlebih dahulu meminta ijin untuk melakukan penelitian dengan pihak yang bertanggung jawab atas perusahaan, yang diwakili oleh bagian personalia perusahaan. Setelah ijin diberikan langkah selanjutnya adalah mengadakan penelitian atas objek penelitian, yaitu mengenai sejarah dan gambaran umum perusahaan. Selanjutnya penulis mengadakan penelitian pada bagian produksi kasturit, untuk itu penulis menemui bagian produksi kasturit untuk mengetahui beberapa hal mengenai proses produksi kasturit dari mulai pembelian bahan baku sampai menjadi barang jadi. Setelah itu penulis meminta ijin untuk melihat data-data yang diperlukan dalam penelitian ini, yaitu data-data yang berhubungan dengan produksi kasturit, khususnya data pembelian dan penjualannya.

3.6 Teknik Analisis Data
Analisis dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan analisa kuantitatif. Adapun teknik analisis yang digunakan adalah perbandingan antara tiga metode penilaian persediaan menurut PSAK No. 14 dengan menggunakan sistem perpetual dalam melakukan pencatatan persediaannya untuk mengetahui jumlah persediaan akhirnya.
a.Metode FIFO (first in first out method)
Barang-barang yang digunakan atau dikeluarkan sesuai dengan urutan pembeliannya. Dengan kata lain barang pertama yang dibeli adalah barang pertama yang digunakan.
b.Metode LIFO (lirst in first out method)
Menandingkan biaya dari barang-barang yang paling akhir dibeli terhadap pendapatan. Biaya dari total kuantitas yang terjual atau dikeluarkan selama satu bulan berasal dari pembelian paling akhir.
c.Metode rata-rata bergerak (moving average method)

Biaya rata-rata per unit untuk masing-masing item dihitung setiap kali pembelian dilakukan. Biaya per unit kemudian digunakan untuk menentukan harga pokok setiap penjualan sampai pembelian berikutnya dilakukan dan rata -rata baru dihitung.
Penentuan HPP (harga pokok penjualan) juga perlu dilakukan untuk mengetahui perbedaan laba yang akan diperoleh dari masing-masing metode penilaian persediaan untuk dibandingkan. Laba kotor diperoleh dari penjualan dikurangi HPP dan laba bersih diperoleh dari laba kotor dikurangi beban penjualan. Besarnya HPP dapat diperoleh dengan cara:
I.9. JADWAL PENELITIAN
Pelaksanaan penelitian ini diperkirakan memerlukan waktu sebagai berikut :
a.Tahap persiapan selama 7 hari
b.Tahap penyusunan proposal 25 hari
c.Tahap penyajian izin penelitian selama 7 hari
d.Tahap penelitian di lapangan selama 25 hari
e.Tahap tabulasi data,analisa data dan penarikan kesimpulan selama 30 hari
f.Tahap laporan hasil penelitian selama 20 hari
RENCANA DAFTAR ISI SKRIPSI
(Sistematika Skripsi)

Halaman Judul
Halaman Persetujuan Skripsi
Halaman Pengesahan Skripsi
Abstrak Skripsi
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar tabel
Daftar Gambar
Daftar Lampiran

BAB I : PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Batasan Masalah
1.4 Tujuan Penelitian
1.7Kegunaan Penelitian
1.8Kerangka Pemikiran

BAB II : KAJIAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Lokasi Penelitian
3.2 Jenis Penelitian
3.3 Jenis dan Sumber Data
3.4 Populasi
3.5 Definisi Operasional
3.6 Teknik Pengumpulan Data
3.7 Teknik Analisi Data

BAB IV : PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.2 Pembahasan

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran
(jika anda ingin memilikicontoh skripsinya lengkap dlm format(M.word)silahkanhub.08563056386(pak eko)(SMS aja)anda hanya mengganti ongkos pengetikan 100rb,pembayaran melalui transfer antar BANK)